Monday, 5 March 2007

A corner of Bukit Barisan Selatan National Park

alam mungkin tak pernah berubah, tapi perilaku manusialah yg berubah,
hilang dan mati, lalu tumbuh pohon baru pengganti.atas godaan
teman-teman untuk jalan ke TNBBS, akhirnya akupun tergoda dengan TNBBS
dimana massa kecilku kuhabiskan dipegunungan bukit barisan ini.

kalau "godaan BigSale atau BrandedSale" aku bisa tahan tapi untuk
kegiatan berpetualang, walah.... nggak kuat nahan. Dalam perjalanan 4
hari ke TNBBS pinggiran (tampang-Belimbing) ada secuil cerita yg ingin
saya bagikan, ditengah berlangsungnya earth summit conference atau lebih
dikenal dengan world summit sustainable development di afrika sana.
dan dikesempatan ceramah singkat kepala BTNBBS yg katanya TNBBS sebagai
paru-paru bumi dan akan di tingkatkan potensinya sebagai Warisan Alam
Dunia di akhir tahun ini seperti TN-UjungKulon dan TN-KOMODO

TNBBS telah mengalami penjarahan dari pencurian kayu, perambahan hutan
oleh masyarakat yg dulu terusir termasuk juga pendatang baru, pemburuan
satwa langka terus berlangsung sampai ke rencana proyek berskala besar
bernama eko-tourism.
dalam perjalanan pulang yg diantar oleh kendaraan roda 4 berjenis 4wd,
kami memutuskan untuk mampir dan bermalam di pos penjagaan TNBBS di
sekawat.
Pak Sarman, nama sederhana gampang di ingat.
Posnya terlihat rusak, peralatan sederhana dilengkapi radio amatir
sebagai komunikasi. pak Sarman ditugasi untuk menjaga pos ini. Pak
Sarman bukanlah orangnya TNBBS(PNS), tapi pak Sarman bekerja pada
PT.Sacna perusahaan yg mendapat izin untuk melakukan pengelolaan
eko-tourism diwilayah Tampang-Belimbing. Pak Sarman tak tahu, apakah
bila tua nanti mendapat pensiun atau atau tidak, maklum Pak Sarman itu
hanya seorang Satpam.

Pos penjagaan ini sebenarnya di jaga oleh dua orang, karena merasa
penghasilan yg diterima pak Sarman tak mencukupi. di sela-sela waktunya
Pak Sarman menyempatkan diri untuk bertanam kopi dipinggiran kawasan
TNBBS. Pak Sarman menjaga secara bergantian dengan rekannya. Pak Sarman
sendirian menjaga pos ini, malam yg gelap hanya ditemani oleh lampu
sumbu kecil berbahan bakar solar dicampur garam. katanya biar olinya
pergi dan lampu sumbu bisa menyala.

tak ada teman bicara di pos ini, kecuali deburan ombak pantai dan suara
tonggerek yg setiap petang selalu setia mencoba menghibur pak Sarman.
Pak Sarman, terkadang bingung. apa yg harus dijaga ditempat sepi, gelap,
sunyi, jarang sekali ada orang yg berkunjung ketempat ini.

Deburan ombak pantai yg tak pernah berhenti, semilir angin pantai dan
suara-suara penghuni hutan menjelang tengah malam didekat dapur kayu
bakarnya dan ditemani seorang nelayan pantai pencari Udang (lobster).
obrolan dimalam yg hening dimulai, sementara teman-teman sudah terlelap
tidur. Pak Sarman bercerita tentang pengalamannya menjaga pos TNBBS ini
yg sudah berlangsung 2 tahun lebih.

Pak Sarman, ternyata dulu adalah termasuk orang yg menangkapi
burung-burung di TNBBS. katanya atas pesanan para awak kapal-kapal
tanker yg labuh jangkar di teluk semangka yg tenang. dan banyak lagi
cerita lainnya selama menjalani hidup di desa Tampang.

aku baru tau ternyata rumah kecil dekat dgn pantai beratap ilalang
berlantai tanah dan berdinding papan seadanya beberapa ayam terlihat
dalam kurungan. tempat kami beristirahat sejenak itu dan memberikan
sedikit permen untuk sibocah ternyata rumahnya Pak Sarman.

Pak Sarman. menjaga tak tau apa yg harus dijaga. walaupun menurut pak
Sarman Nelayan pantai yg mencoba memasang Jaring Udang di pantai yg
masuk ke Kawasan TNBBS itu seharusnya di larang. Tapi, Pak Sarman
berusaha untuk bisa bersahabat dengan Nelayan Pantai.
tak ada teman disini, katanya. kecuali deburan ombak disepanjang pantai
dan suara-suara penghuni hutan. walaupun terkadang ada saja nelayan
pantai yg mau bertandang di Posnya.



-Aris.



No comments:

Post a Comment