Wednesday, 28 February 2007

MDGs, For human right or for Capitalism


genderang perang,
cerita tentang perang, beberapa tahun silam saya suka dengan filem "the
art of war", walaupun dalam perjalanan manusia hidup, perang melawan
kemiskinan selalu menjadi program pemerintah walaupun terkadang faktanya
pemerintah yang makmur, penduduknya tetap miskin.

walaupun saya pribadi lebih memilih perang melawan Hawa Nafsu. karena
begitu banyak godaan big sale, keinginan yang harus di wujudkan, dan
kebutuhan yang makin tak kuat untuk di tahan, war with Capitalism.. ini
sulit Banget! setiap kali Nonton TV ada ribuan produk yang mesti di
beli karena sebuah bisnis keinginan...

saya jadi ingat dengan iklan "Millenium community development Goal 2015", kalau
saya di kasih umur panjang, bisa melihat lebih dekat dengan Project
mengentaskan kemiskinan tapi beras harus import dari negara yang baru
10-15 tahun belajar damai, Vietnam.

saatnya mulai belajar sedikit memberikan Kebaikan.

jadi ingat salah satu artikel

Milenium Patriarkal Kapitalis Oleh Nawal Al-Sa'dawi
""Kekuasaan" adalah kata kunci milenium ini dan yang akan datang, selama
kita masih diatur oleh sistem patriarkal kapitalis. Segala
ketidak-adilan akibat perbedaan ras, jenis kelamin, kelas, kebangsaan,
agama, atau warna kulit dapat dianggap benar atas nama Tuhan, raja,
presiden, suami, ayah, atau pemimpin AS. Semuanya dapat dibolak-balik
selama Anda berkuasa di dunia internasional, dalam skala nasional, atau
dalam keluarga. Standar ganda adalah hukum universal. Sementara kata
"spiritualitas" adalah kata yang kabur maknanya. Kini kata itu sering
dipakai, dan masih akan terus dipakai pada milenium yang akan datang,
bersama-sama dengan kata-kata yang sudah akrab dengan kita seperti
nilai-nilai keluarga, moral, identitas budaya otentik, atau kebebasan
beragama. Tak heran jika bantuan Amerika untuk negara-negara miskin
termasuk Rusia, dikaitkan dengan kebebasan beragama.

Sementara kita mendekati milenium baru, kita menyaksikan meningkatnya
apa yang disebut globalisasi, pasar bebas, kebebasan beragama,
demokrasi, politik multi-partai, dan pluralisme. Namun, hasil semua ini
tak lain: semakin banyaknya pembunuhan, terorisme, kemiskinan, fanatisme
agama, seksual, rasial, atau kebangsaan. Nama tak selalu sama dengan
kenyataan yang dinamainya. Pasar bebas menyediakan bagi kita makanan
yang buruk, daging busuk, dan sampah nuklir. Inilah kebebasan pihak yang
kuat untuk mengeksploitasi dan menipu. Hukum internasional dan nasional,
secara implisit atau pun eksplisit, mensyaratkan bahwa negara kecil
harus patuh pada negara besar, seperti halnya istri harus tunduk pada
suami. Aturan kepatuhan ini melegalkan pengaturan ketat pihak yang lemah
oleh pihak yang lebih kuat--sehingga membuat negara kita tak bisa
berkutik di bawah ancaman sanksi militer dan ekonomi--dan juga
mengabsahkan pengaturan ketat istri oleh suami, sehingga membuat
perempuan tak berdaya menghadapi pelecehan fisik.

----


1 comment: