Sunday, 13 November 2005

Matematika = Jihad


jihad, kata yg lumayan menakutkan beberapa tahun belakangan ini, jihad
kadang diartikan dengan kekejaman, pembunuhan dll.. yg berunsur negatif
thinking lainnya,  termasuk di dalamnya dalam wacana besar bernama
"war of terorist",   lalu saya teringat dengan Buku lama berjudul "american Jihad"  karya  Steven Barbosa.





Matematika = Jihad

Abdulalim Abdullah Shabazz



Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar... (QS 39:5)



"Kaum Muslimin di Amerika kurang diperhitungkan, tapi mereka kuat dalam hal bilangan."

Orang kulit hitam kurang dikenal di kalangan ilmuwan Amerika, jumlahnya
kurang dari 1 persen dari seluruh ilmuwan di AS. Di negeri ini terdapat
lebih dari 2.100 perguruan tinggi. Pada 1989, kurang dari 1.200 kampus
yang menganugerahkan satu gelar sarjana ilmu pasti atau teknik kepada
seorang mahasiswa kulit hitam.



Sedikit orang kulit hitam yang memutuskan untuk mempelajari matematika
atau ilmu pasti. Mungkin karena tekad untuk mempelajari subjek itu
biasanya diputuskan sejak masih berada di sekolah dasar. "Kemurnian
logikanya dan kemampuannya yang menggiurkan untuk memecahkan teka-teki"
memikat hati ilmuwan pemula. Tetapi seberapa banyak kemurnian dan daya
pikatnya tersebut dapat diterjemahkan sangat tergantung pada kemauan
yang dimiliki oleh seorang pelajar.



Lebih dari separuh ahli matematika kulit hitam di AS sekarang --sekitar
109 dari 200 orang-- mendapatkan gelar doktor mereka secara langsung
atau tidak langsung dalam program matematika yang dipimpin oleh
Abdulalim Abdullanh Shabazz dari 1956 sampai 1963. Profesor dan ketua
jurusan matematika di Clark Atlanta University yang berambut perak ini,
duduk di kantornya yang penuh buku dan menjelaskan teori di balik
keberhasilannya: "Tak ada ramuan ajaib atau sulap. Hanya keyakinan
sederhana bahwa setiap orang dapat mempelajarinya jika mereka terus
berusaha dengan keras."



Shabazz mendapatkan gelar sarjananya pada 1949 dari Lincoln University,
gelar masternya pada 1951 dari Institiut Technologi Massachusetts, dan
gelar doktornya dari Cornell University pada 1955.

Pada tahun-tahun awalnya di Atlanta, Shabazz dan murid-muridnya sering
melakukan protes di perpustakaan-perpustakaan umum. Undang-undang
Jim-Crow tidak memperbolehkan mereka duduk. Mereka berdiri, sambil
membaca buku-buku yang tidak boleh mereka bawa pulang. Karena pimpinan
Universitas Atlanta mengecap dirinya komunis, Shabazz pergi
meninggalkan kampus itu.



Pada 1960-an, Shabazz masuk Islam, menjadi pengikut Elijah Muhammad.
Dia mempelajari bahasa Arab di Timur Tengah dan mengajar matematika di
Universitas Umm Al-Qura di Makkah, Arab Saudi. Sekarang dia telah
kembali ke Atlanta, melanjutkann jihadnya di bidang pendidikan untuk
mencetak lebih banyak ahli matematika kulit hitam ke jalur ilmu pasti.

Tuhan mengajarkan pada kami untuk mencari ilmu pengetahuan sejak dari
buaian sampai liang lahat. Itu adalah sebuah hadis. Ajaran Islam datang
untuk membawa petunjuk bagi seluruh umat manusia. Agama ini mengajarkan
pada kami untuk menghormati dan meneladani kebijaksanaan orang-orang
tua kami dan menyebarkan apa yang terkandung dalam buku-buku.

Di ruangan kelas, saya mempunyai mandat untuk mengajarkan kebenaran
dalam skala yang lebih besar dan menunjukkan kepada murid-murid saya
peran yang harus mereka mainkan dalam dunia matematika. Saya
menunjukkan pada mereka bahwa matematika berasal dari Afrika kemudian
tersebar ke seluruh penjuru dunia. Jika kita dapat melakukannya di masa
lalu, kita dapat melakukannya lagi saat ini. Hal itu menjadi motivasi
bagi murid-murid.



Anda dapat menyaksikan matematika terdapat dalam artifak-artifak dan
fosil-fosil di seluruh Afrika. Salah satu fosil tertua yang membuktikan
bahwa orang-orang daerah ini mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang
matematika terdapat sebuah tempat bernama Ishango, yang sekarang
dikenal dengan Zaire. Jean de Heinzelin, seorang arkeologis dari
Belgia, pada akhir abad kelima belas berhasil menggali sekumpulan
artifak dan sebuah tulang yang sekarang dikenal sebagai tulang Ishango.
Pada tulang tersebut tertulis beberapa tanda 13, 11, 17. Setiap tanda
mengindikasikan sebuah kesatuan. Di situ tertera manifestasi yang jelas
dari pengetahuan matematika tentang bilangan berbasis 10. Heinzelin
mengungkapkan bahwa petunjuk tertua atas hitungan semacam itu ditemukan
di sana, di Ishango, dan pemikiran itu menjadi dasar dari sistem
hitungan selanjutnya yang dimulai di Mesir.



Tentu saja terjadi perkembangan di bidang matematika di Mesir, yang
disebut sebagai salah satu peradaban tertua di dunia. Keberadaan
Piramid dan Sphinx merupakan bukti adanya teknologi, ilmu pasti, dan
matematika yang hebat. Para ilmuwan menyatakan bahwa ketika Piramid itu
dibangun, ketinggian vertikalnya sepermilyar jarak antara bumi ke
matahari. Ketinggian bangunan yang sama baru bisa dicapai oleh orang
modern sekitar 1874.



Batu-batu yang dipergunakan untuk menyusun Piramid itu rata-rata
beratnya dua dan satu setengah ton, beberapa di antaranya lima puluh
ton --100.000 pound. Sangat sulit untuk membayangkan bagaimana manusia
dapat memindahkan batu-batu itu dan menyusunnya menjadi sebuah bentuk
piramid yang sempurna yang menjulang tinggi dari dasar yang berbentuk
persegi dengan ketinggian yang mencapai sekitar 485 kaki. Luas
permukaan piramid-piramid itu sama dengan kuadrat ketinggian
vertikalnya --sebuah prestasi mengagumkan yang menunjukkan wawasan dan
pengetahuan matematika yang sangat hebat.



Islam muncul dan masuk ke Afrika Utara. Islam datang bukan untuk
membuat kehancuran. Agama itu menyebar di Afrika dengan membawa
perbaikan dan pembangunan. Membangun sekolah-sekolah, lembaga-lembaga,
dan memberikan arah dan tujuan hidup kepada manusia.

Pada 711 Masehi, seorang jenderal bernama Thariq ibn Ziyad memimpin
sebuah pasukan melintasi tempat yang sekarang disebut Mediterania. Dia
menaklukkan wilayah di sebuah gunung yang oleh orang Spanyol disebut
sebagai "Mons Calpe". Gunung itu kemudian dinamai kembali oleh serdadu
Tariq sebagai "Jabal Al-Thariq" --'Gunung Thariq'". Orang Spanyol
menyebutnya "Gibraltar."



Spanyol dan Portugal --yang pernah bernama Jazirah Iberia-- juga
tertaklukkan, dan peradaban Islam ditumbuhkan di sana oleh orang-orang
Muslim pengikut Thariq. Mereka berada di sana sampai 1942, ketika
Granada runtuh. Itu terjadi pada tahun yang sama ketika Columbus secara
kebetulan menemukan Amerika, orang yang tersesat.



Itu terjadi dalam periode antara 711 sampai 1492, di mana Islam
mempertahankan pengetahuan Yunani kuno, Romawi, dan Afrika dalam
buku-buku berbahasa Arab.

Bilangan Romawi segera dihapuskan setelah bilangan Arab diperkenalkan
ke Eropa. Angka-angka yang janggal itu diungguli oleh angka-angka Arab
yang lebih mudah dan aktif serta dapat memberikan bukan hanya pemikiran
atas apa yang dilambangkan, tetapi juga memungkinkan Anda untuk
menghitung tanpa kesulitan. Konsep angka nol adalah konsep alami,
tetapi memiliki kekuatan revolusioner.



Salah satu buku yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin
adalah yang ditulis oleh orang yang bernama Muhammad ibn Musa
Al-Khawarizmi. Judulnya Al-Jabr wa'l-Muqabala, yang berarti "Restorasi
dan Reduksi". Ketika buku itu diterjemahkan ke bahasa Latin, kata
keduanya --wa'l-Muqabala-- dihilangkan, jadi tinggal kata Al-Jabr, yang
menjadi "algebra". Dan dari nama Al-Khawarizmi didapatkan kata
"algoritma" dan "logaritma".



Pengarangnya hanyalah seorang guru. Kami tidak pernah mengklaim bahwa
apa yang kami ajarkan berasal dari kami sendiri --kami mendapatkannya
dari guru-guru kami, dan mereka mendapatkannya dari guru-guru mereka.
Itulah sebabnya beribadah kepada Tuhan sangat penting. Jika Anda
beribadah kepada Tuhan, Anda mempunyai rasa hormat pada apa-apa yang
datang sebelum Anda sebab Anda mendapatkan perbaikan ilmu pengetahuan,
kebudayaan dan perkembangan secara terus menerus. Itu berlanjut terus.
Anda tidak menghancurkan segalanya dan memulai semuanya kembali dari
awal, ketika Anda memulai sesuatu.

Islam berperan dalam mempersiapkan gelanggang untuk Kebangkitan kembali
Eropa. Dasar dari Kebangkitan kembali adalah berbagai macam peradaban
yang disatukan, yang menyebabkan timbulnya kelahiran kembali Eropa.
Zaman itu didominasi ilmu pengetahuan. Sekali ilmu pengetahuan
ditanamkan di suatu daerah, ia akan menyebabkan pelembagaan. Lambat
laun akan terjadi suatu ledakan. Kita dapat menemukan gerakan ilmu
pengetahuan tersebut dari catatan yang ditulis oleh para sarjana dan
ilmuwan zaman itu.



Tradisi Muslim merupakan hal yang bersifat universal. Para sarjana di
Cordoba, Seville, dan Granada berhubungan dengan sarjana-sarjana di
Afrika di Timbuktu, Kairo, dan Kairouan, di Baghdad, Bukhara dan
Samarkand. Mereka Baling berhubungan dan saling bertukar pendapat.
Salah satu universitas terbesar yang ada selama abad kedua belas,
ketiga belas, keempat belas ada di Timbuktu. Kota ini dihancurkan
ketika merupakan pusat intelektual. Rektor terakhir di universitas itu
adalah Ahmed Baba, yang dibawa sebagai tawanan ke Maroko. Dia
dipenjarakan. Dia begitu mengesankan dan teguh dalam pendapatnya
tentang kebenaran dan keadilan sehingga dia dibebaskan setelah dua
tahun. Dia mengarang lebih dari empat puluh buku.



Kaum Muslimin memelihara ilmu pengetahuan, menyebarkannya di Eropa, dan
kemudian mereka ditendang keluar dari sana. Selama masa Inkuisisi
(pengadilan yang ditunjuk oleh Gereja Romawi untuk memberantas bid'ah),
tiga juta orang Moor diusir dari Eropa, yaitu antara keruntuhan Granada
dan dekade pertama abad ketujuh belas. Sebagian besar dari mereka
kembali ke Afrika. Beberapa di antaranya pergi ke daerah lain di Eropa.
Banyak di antara orang-orang Muslim tersebut dibunuh pada masa
Inkuisisi ini.

Kini, kita hidup di suatu masa yang saya pikir merupakan kebangkitan
kembali jiwa Islami. Semangat Islam telah termanifestasikan ke seluruh
dunia. Orang-orang menyebut fenomena ini sebagai fundamentalisme. Ini
merupakan cara diam-diam untuk menyerang, memfitnah, mengubah orang
melawan fenomena alam yang benar-benar mewakili hasrat kerinduan akan
kemurnian pikiran, kebaikan, persamaan, dan keadilan di dunia.



Islam berkembang, bukan hanya di Timur Tengah, tetapi juga di Eropa
Timur. Kita melihat pembantaian orang-orang Muslim yang tidak berdosa
di sana. Di Eropa Timur banyak terdapat Muslimin kulit putih. Penting
untuk dicatat bahwa di bawah Komunisme, yang tidak mengakui adanya
Tuhan, kaum Muslimin mendapat perlakuan dan hari-hari yang lebih baik
daripada yang mereka dapatkan di bawah kepemimpinan orang Kristen
sekarang, yang membunuhi mereka hari demi hari. Dan dunia hanya berdiri
dan memandang pembantaian tersebut sambil berkata, "Oh, kasihan sekali."

Di Amerika orang-orang Afro-Amerika mengajukan sebuah kunci untuk
kebangkitan kembali Islam. Saya melihat banyak murid yang masih muda
yang beragama Islam. Mereka tidak akan seperti orang-orang tua mereka
menyembah dolar dan kekuasaan. Semakin banyak orang yang menjalankan
hal-hal yang pokok --shalat, duduk dalam suatu lingkaran untuk saling
berbicara, berdiskusi, dan bertukar pengetahuan. Salah satu pengetahuan
terpenting yang harus dimiliki setiap orang di muka bumi ini adalah
mengetahui siapakah diri mereka.



Saya tumbuh di sebuah desa "Afrika" di Alabama. Jika saya menengok ke
belakang, rasanya saya telah berada dalam tradisi Islami walaupun
masyarakat di sana tidak mengetahui apa-apa tentang Islam. Tetapi cara
mereka bertingkah laku merupakan bagian dari tradisi Islami yang dibawa
dari Afrika. Kami menghormati orang-orang yang lebih tua dalam
masyarakat, sebab setiap lelaki dan wanita dalam masyarakat dapat
menjadi "orang tua" kami. Jika mereka sudah lanjut usia, mereka akan
menjadi "kakek-nenek" kami. Kami duduk dan mendengarkan mereka karena
kami ingin belajar dari pengalaman mereka. Saya berusaha untuk menjadi
guru yang baik dengan hidup di kalangan masyarakat guru.



Begitulah cara saya mengajar matematika. Dengan melakukan itu, dengan
mudah kita mendapatkan orang yang tadinya lama sekali tidak mempunyai
pengetahuan, dalam arti pemahaman, dan besok dia menjadi seorang pakar
matematika.



Malcolm [X] berpidato di perkumpulan matematika kami dan berceramah
atas undangan saya. Kuliah diberikan di ruangan berdiri saja. Dia
berbicara mengenai piramid yang melukiskan peradaban yang tinggi. Tentu
saja dia melakukannya dengan cara yang sangat khas. Dia seorang
pembicara yang sangat memikat dan dia mampu mengguncangkan tempat itu.
Malcolm berkata, Islam adalah matematika dan matematika adalah Islam.
Mereka menyebut cara kami mengajarkan matematika sebagai cara yang
revolusioner. Pekikan perjuangan kami adalah "Matematika adalah hidup,
dan hidup adalah matematika."



Setiap aspek kehidupan adalah matematis --pandanglah hidup dari sudut
kuantitas, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian. Ketika kita
mengembangkan bentuk-bentuk matematis, betapapun abstrak dan muskilnya
itu, bentuk-bentuk tersebut berasal dari kehidupan. Oleh karena itu,
pola-polanya tidak lebih dari perkiraan dalam kehidupan yang kita
jalani.

Islam adalah kepasrahan menyeluruh terhadap kemauan Tuhan. Jika Anda
berharap untuk hidup dalam suatu kehidupan yang bermanfaat, kehidupan
yang bermakna, jika Anda tawakal, maka akan ada harmoni, akan ada
kedamaian. Anda akan serasi dengan sifat alami dunia, dan itu berarti
Anda terikat pada keinginan Tuhan; Anda pasrah pada kemauan Tuhan Yang
Mahakuasa. Dan itu membuat hidup lebih berarti.



Banyak ilmuwan dan sarjana matematika berbicara dalam bahasa simbolis
untuk menyampaikan suatu pesan yang hanya dapat dimengerti hanya oleh
orang-orang yang mengerti kode-kode itu. Ini merupakan salah satu
alasan mengapa matematika mendapat nama yang buruk di masyarakat
--karena matematika dijabarkan dalam suatu kode yang tidak dapat mereka
baca, dan mereka harus mempelajari kode tersebut untuk dapat
memahaminya. Kami tunjukkan pada siswa di kelas saya bahwa mereka telah
mengetahui sebagian besar dari hal itu. Kami menghapuskan rasa takut
dan kecemasan mereka akan matematika. Jika mereka mengerti cara
menguasai matematika, maka mereka dapat mengambil alih nasib ke tangan
mereka.



Satu-satunya cara untuk membebaskan diri adalah melalui pengetahuan
yang lebih luas. Itu datang melalui matematika dan melalui keimanan
kita pada agama Islam. Kaum Muslimin tidak dapat membebaskan diri
mereka dalam dunia sekarang ini dari tekanan dan aniaya, kecuali jika
mereka melakukannya sendiri. Mereka tidak dapat meminta pertolongan
dari orang lain, mereka harus menyelamatkan diri mereka sendiri.

Tanpa matematika Anda tidak dapat mengobarkan jihad. Jika Anda
mempunyai organisasi, itu berarti Anda mempunyai matematika; jika Anda
mempunyai pengetahuan, itu matematika; jika Anda mempunyai sarana dan
cara untuk melakukan sesuatu, itu matematika. Untuk melakukan suatu
jihad yang berarti, Anda harus mengerti apa yang Anda coba lakukan,
Anda harus memahami apa tujuan Anda, ke mana Anda pergi, apa yang ingin
Anda dirikan, apa yang ingin Anda ubah.



Matematika akan mengajarkan pada Anda hal-hal praktis cara berpikir,
menggabungkan, memisahkan, dan menganalisis sesuatu. Inilah yang
diperlukan oleh masyarakat kita sekarang kita harus mempelajari cara
berpikir, bagaimana mengeluarkan diri dari neraka dan menempatkan diri
kita dalam situasi yang menyenangkan seperti di surga; bukan hanya diri
kita secara individual, tetapi secara kolektif.



Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X oleh Steven Barbosa

Judul Asli: American Jihad, Islam After Malcolm X

Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York 1993

Penterjemah: Sudirman Teba dan Fettiyah Basri

Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124

http://media.isnet.org/islam/AS/index.html






1 comment: