Bisa juga di lihat di
http://www.indobackpacker.com/content/view/173/80/
Photo - photo by. Erwin Yulianto
Walaupun berada di selatan jakarta, kira-kira bisa ditempuh
dengan 5-7 jam perjalanan darat, Taman Nasional yang kini bertambah
luasnya menjadi 113,357 ha, dan sejak tahun 2003 menambah nama
menjadi Taman Nasional Gunung Halimun - Salak (Gunung Halimun Salak
national Park - GHSNP) merupakan wilayah konservasi alam yang
ekosistemnya lumayan terjaga, ekosistem Taman nasional
Gunung Halimun Salak sangat berperan penting dalam kehidupan yang
berkelanjutan sebagai sumber air bagi masyarakat sekitarnya juga
sebagian sebagian besar orang - orang di kota besar seperti jakarta
meminum air dari kawasan ini.
Bingung, ketika libur datang harus kemana, dikarenakan tak pulang ke
kampung halaman, yang menjadi sebuah ritual tahunan bagi para pendatang
di jakarta, saya memilih untuk berkunjung kembali ke Kampung Citalahab
Taman Nasional Gunung Halimun.
Sebuah kampung kecil di tepian hutan tropis dan sungai kecil yang
jernih melintas di antara rumah penduduk dan hamparan sawah,
beberapa teman menyebutnya dengan Lembah citalahab, berpenghuni kurang
sekitar 16 KK, kampung citalahab menyimpan keheningan dan
ketentraman yang tidak akan pernah di temui di Kota-kota besar.
Dalam perjalanan kemarin, saya harus menjemput teman-teman di Kota
kabupaten sukabumi, lalu perjalanan dilanjutkan menuju Parung
Kota berjarak sekitar 30 Km dari Kota Sukabumi. Dari parung
kota, perjalanan dilanjutkan menuju Kabandungan, dimana Kantor Balai
Taman Nasional Gunung Halimun berada. Kami mampir untuk mendaftar Ijin
masuk Kawasan dan berbincang-bincang sejenak. Sementara Hujan
mulai turun, perjalanan di lanjutkan ke Kampung citalahab yang berjarak
+/- 20 km dari kantor Balai Taman Nasional.
Perjalanan dari Kantor Balai Taman nasional ke Kawasan Taman nasional
pintu Timur, jalannya sangat rusak, sangat di sarankan menggunakan
kendaraan four whelldrive alias 4 x 4, walaupun menurut saya kendaraan
4 x 2 pun bisa sampai ke sini, hanya saja resiko tersangkut - sangkut
batu, dan membuat mobil menjadi rusak. Tapi kalau mobil kijang sih,
masih bisa lah.
Menjelang Sore, kami tiba di pintu selamat Datang di Kawasan Taman
Nasional Gunung Halimun - Salak. Perjalanan masih butuh waktu
sekitar 1 - 2 jam untuk sampai di Kampung Citalahab, kami
memutuskan mampir sejenak di stasiun penelitian Cikiniki, hasil
sumbangan JICA yang bekerja sama dengan pihak TNGHS, sayangnya ketika
kami kesini, hanya ada satu petugas dan Canopy trail katanya lagi
Rusak! Nggak tau kapan bisa di gunakan kembali.
Perjalanan di lanjutkan ke Kampung Citalahab. Menjelang Sore,
bukit-bukit hijau di kawasan perkebunan the Nirmala agung, tampak di
tutupi kabut, kabut = halimun sebutan penduduk disana.
Kami memutuskan untuk bermalam di salah satu homestay milik penduduk di
kampung citalahab. Sementara malam mulai datang, suara penyeru hutan
mulai bernyanyi. Lumayan hening kampung ini.
Di kampung Citalahab tersedia guesthouse milik TN yang di kelola oleh
penduduk juga tersedia 7 homestay yang bisa di gunakan oleh pengunjung.
Ketika Pagi Tiba, kicauan burung-burung dan gemericik sungai kecil yang
jernih melintas di kampung ini, kami pagi ini akan trekking pendek ke
Curug Pi'it yang berketinggian sekitar 25 m berada di Ujung
perkampungan di kawasan perkebunan Nirmala. Dalam
perjalanan hampir 8 jam, Maklum rata-rata teman-teman ada yang
belum pernah mencoba ber-ekowisata apalagi trekking melintas
Hutan. Sepanjang perjalanan pemandangan hamparan Hijau perkebunan
the, mulai menguningnya padi-padi di sawah dan melihat dari dekat
aktifitas penduduk di sekitar kawasan ini memberikan kesan tersendiri.
Tadinya, berharap bisa berkunjung masuk hutan Taman Nasional ini,
karena hari mulai sore dan sepertinya sudah tidak memungkinkan, kami
memutuskan untuk kembali ke Homestay.
Pagi hari, selalu di awali kicauan burung-burung, nun jauh di atas
bukit-bukit suara lengkingan Owa Jawa (javan Gibon) terdengar
sayup-sayup. Kami ngintip sunrise yang ternyata datang lebih
siang di sebuah bukit di perkebunana the Nirmala. Menjelang
siang, kami berkemas untuk melanjutkan perjalanan pulang. Dalam
perjalanan pulang, suara penyeru - penyeru hutan menjadikan lagu alam
yang tak akan pernah bisa di dengarkan kota-kota besar.
Perjalanan pun, kami lanjutkan ke Ujung Genteng nature reserve.
ARIS
1 comment: