Menjulang puncak gunung,
menyentuh langit biru,
memanggil hati yg murung,
Apalagi yg ditunggu,
Ayo capai puncaknya, ayo!! (mendaki gunung by tasya).
Lagu pengantar yg bagus untuk didengar, ketika temen kantor ngebet
banget nganter aku ke stasiun senen. Aku Cuma bilang "oh, suka lagu
anak-anak juga toh". Dia bilang " ini lagu untuk kamu".
Menunggu kang anwar di douncindonate senen station, kereta jarang tiba
terlambat, kita yg sering terlambat. 08:55 kereta tawang mas tujuan
semarang - poncol melaju. Pengemis tak berkaki dan ratusan pedagang
asongan selalu mengiringi perjalanan dengan kereta yg punya sebutan
kelas ekonomi.
Poncol, itu tujuan kami. Ketemu temen-temen yg ternyata punya tujuan yg
sama "kopeng" jumlah kami bertambah. perjalanan lanjut ke salatiga,
turun pasar sapi, naik elf lagi turun di obyek wisata umbul songo, jalan
sedikit dan tiba deh di desa thekelan.
Desa thekelan, desa yg sedikit mencil tapi sudah ada listrik,
penduduknya terlihat ramah. Obrolan singkat dg seorang wanita yg tinggal
camp pendakian thekelan, memberi sedikit gambaran tentang desa ini.
Beberapa anak-anak terlihat sedang bermain dengan burung daranya,
Menjadi pengiring perjalanan kami untuk enjoy trekking ke merbabu kali ini.
Merbabu yg punya puncak tertinggi 3142 mdpl bertype strato vulcano,
memiliki 5 kawah ada juga yg tergolong active , aku suka menyebutnya
dengan gunung wanita. Mer=Gunung Babu=Wanita. Di halmahera ada juga
gunung yg punya nama "gunung Ibu".
Merasa masih lelah, dan setelah tanya kang anwar yg ternyata bersedia
untuk mendaki malam hari, kami memutuskan buka tenda di pos pending yg
katanya banyak monyet yg nakal.
Jam 21:00 lewat dikit, bangun tidur. Beberapa pendaki terlihat ramai
sekali. Pendakian malampun dimulai, mendaki malam memang memberi suasana
tersendiri dan hampir sebagian besar gunung di jawa tengah lebih nyaman
dijajaki pada malam hari dan subuh tiba di puncak.
Nyanyian daun cemara karena tiupan angin, menjadi sangat merdu, walaupun
terusik oleh hingar-bingar tape besar yg dibawa pendaki lain. Walah full
music on midnight trekking, pikirku. Bulan yg bersinar terang, menjadi
lampu penerang yg baik dimalam yg gelap.
Sepanjang perjalanan menuju puncak, aku sedikit heran, gunung ini yg
kemarau lalu memang habis terbakar, tak ada pohon disini, yg ada hanya
kayu-kayu yg menghitam. Terlihat beberapa rumput berusaha untuk tumbuh
setelah Hujan mulai tiba. Aku pun berharap ada hujan, hujan yg selalu
memberi kehidupan.
Jam 03:00 pagi, kami sudah tiba di pos V, sebelum jembatan setan menuju
puncak. Ah, bobo dulu, bau belerang sesekali tercium karena tiupan angin
yg terkadang campur debu.
Tidur tampa mendirikan tenda punya kenikmatan, jam 06:00 pagi kami
meninggalkan temen-temen yg ketemu di poncol. Lumayan bagus di puncak
syarif, lalu turun lagi menuju puncak kentong songo. Pesan untuk
hati-hati ketika ketemu pendaki lainnya tak pernah berhenti. Betul kata
kang anwar, jalur menuju puncak kentong songo sedikit berbahaya.
Dipuncak kentong songo, kang anwar jeprat jepret ngambil photo, aku
ngobrol sama pendaki lain yg ternyata asal magelang. Alhamdulillah
pikirku "Tambah sahabat lagi neh", Tukeran alamat menjadi hal yg biasa.
Turun jalur selo, menjadikan perjalanan yg panjang. Melewati beberapa
bukit yg juga sebagian besar bekas terbakar, lalu masuk hutan menjadi
perjalanan yg tak terlalu melelahkan. Aku agak seneng mendengar nyanyian
burung yg sepanjang perjalanan tak pernah terdengar, Walaupun ketika
ketemu percabangan jalan membuat aku dan kang anwar agak bingung. Cerita
lucu kesasar kedesa lain dan diikuti temen yg lain, membuat kami harus
naik mobil bak ke desa selo.
Tiba diselo menjelang sore, setelah menumpang mandi di mesjid,
perjalanan dilanjutkan ke boyolali dan menuju semarang. sementara hujan
disertai angin kencang mulai turun dengan derasnya.
Di terboyo aku pisahan sama kang anwar lanjut ke Jakarta, karena aku
janji menginap dirumah seorang sahabat yg dari dulu pengen benget
ngenalin aku sama Lulu', hewan cantik juga pandai.
Hujan terus deras, terminal mulai banjir. Aku harus ke jl. Pemuda, atas
bantuan penarik becak yg sabar akhirnya rumah temenku yg keturunan china
ketemu juga. Walah rumahnya besar banget toh.
Malam yg dingin hujan telah berlalu, temenku ngajak muter-muter
semarang. Menikmati Mie jowo di Jl. Diponegoro yg katanya enak tenan
itu, lalu menikmat es cream midnight di pecinan semarang mengingatkan
aku pada nama besar "sam pho kong" seorang pendekar china muslim yg
diangkat menjadi tuhan oleh penganut ajaran yg lainnya. Jadi inget jo
dan riri dimataram hehehe.
Pagi yg indah, lulu cantik sudah bangun. Teh panas siap dimeja terus
diajak menikmati soto ayam beringin yg terkenal itu. Wow. Uenaakk e'.
Temenku berharap aku menginap semalam lagi, tapi aku harus pulang,
soalnya udah bolos kerja nih.
bersalaman sama lulu' tanda perpisahan,
"I hate say good bye"
Diterminal pekalongan, gara-gara bullsack sering ditanya "jualan apa mas
:-)" hmmm
-Kunlun
Independent mountaineering
Dalam belajar mendaki hanya butuh sedikit ketenangan dan sedikit kedamaian"
Special thanks for:
-Allah SWT.
-tukang becak, yg rela kehujanan
-temen-temen mountaineering yg bersahabat.
-Bullsack by reptil
No comments:
Post a Comment