Indonesia Trekking and Mountain Guide Specialist for Tour to Active Volcano, Volcano Research, Volcano Expedition, Volcano Photo Tour, Volcano Filming and Volcano Study Tour and also Jungle Trekking, Expedition in Indonesia
Monday, 8 January 2007
Taman Nasional Komodo
perjalanan panjang, terpaksa kami memutuskan untuk mencari tumpangan
dari desa moni, sepulang dari kunjungan semalam ke taman nasional
kelimutu, tujuan kami berikutnya taman Nasional Komodo, walaupun desa
bena kami lewatkan begitu saja, kami sempat mampir di Lingko. sawah
yang bisa di lihat dari kejauhan seperti sarang laba-laba di kecamatan
lembor kabupaten Ngada - Nusa tenggara timur.
perjalanan dari moni - labuan bajo lumayan panjang, dan kami bermalam
semalam di ruteng, sebuah kota kecil di kelilingi pegunungan, lumayan
sejuk kota ini, lalu esok harinya kami lanjutkan perjalanan menuju
Labuan baju. ruteng - labuan bajo dibutuhkan waktu hampir setengah hari
perjalanan.
menjelang sore, kami sampai juga di ibuKota kecamatan Komodo, sekarang
sudah berubah menjadi Ibukota kabupaten Flores barat. kami menginap di
Hotel Wisata-labuan bajo with Mandi tentu.
karena masih siang, kami berjalan-jalan keliling kota labuan bajo, dan
mampir sejenak ke Pelabuhan ikan, untuk cari-cari perahu menuju kampung
komodo, ini tujuan kami, karena kalau carter perahu biayanya terlalu mahal.
kebetulan sekali, ternyata esok hari ada perahu rakyat yang akan
berangkat ke Kampung Komodo.
pagi-pagi sekali kami sudah standby di Pelabuhan nelayan komodo, sebelah
utara pelabuhan penyeberangan Labuan Bajo - Sape, kapalnya kecil dan
memuat banyak kebutuhan pokok seperti beras, dll untuk kebutuhan
penduduk di kampung komodo, perjalanan menuju kampung komodo di tempuh
hampir 4 jam lebih dan kami berkenalan dengan pak Ishaka mansur yang
ternyata sangat paham sekali dengan keberadaan taman nasional komodo,
menjelang sore, kami akhirnya sampai juga di Kampung yang termasuk dalam
kawasan taman Nasional Komodo.
kami bermalam di salah satu rumah penduduk di kampung komodo, lumayan
sangat sederhana kampung komodo, di sambut ratusan burung gagak yang
bertengger di atas-atas perahu, rumah penduduk.. memberikan kesan
tersendiri dengan kampung yang sudah lama berdampingan dan hidup rukun
dengan biawak komodo (/Varanus komodoensis/). di bawah pohon di
kejauhan terlihat seekor komodo sedang berjemur.
karena musim kemarau bulan juni 2006 lumayan panjang, di kampung ini
sedang kesulitan air bersih.
Pagi yang cerah, kami di antar oleh mba Sumarni dan keluarganya menuju
pantai merah, dengan perahu kecil, setelah puas berenang dan
bersnorkeling di pantai merah dengan terumbu karangnya yang indah,
menjelang saya kami lanjutkan perjalanan menuju Loh Liang, salah satu
tempat yang paling sering di kunjungi turis asing maupun lokal untuk
melihat lebih dekat dengan hewan yang katanya hanya ada di kawasan ini,
komodo... tapi, mungkin kami belum beruntung, tidak ada satupun seekor
komodopun terlihat.
kecewa, ini kata para bule, bagi kami itu wajar-wajar saja, namanya juga
hidupan liar. memancing komodo dengan feeding sudah lama tidak di
lakukan lagi, karena panas dan nggak nemu komodo, siang hari ketika laut
mulai surut, kami trekking pendek dari loh liang menuju kampung komodo
dibutuhkan waktu hampir 2 jam, maklum perjalanan dengan 2 anak-anak,
anak kami belum 2 tahun usianya dan harus di gendong bergantian.
merasa belum puas dan penasaran saran, sore hari saya kembali trekking
ke bukit-bukit di belakang kampung komodo, suara seperti dinosaurus
terdengar di lembah-lembah, tanda hidupan liar hewan yang lebih di kenal
dengan nama Naga Komodo atau komodo dragon rasanya begitu dekat dengan
kami, tapi di dalam hutan rasanya sulit terlihat, beberapa kancil, rusa
dan burung-burung sempat saya temui, panoram alam komodo begitu
menakjubkan dilihat dari atas bukit ini.
Taman Nasional Komodo (Komodo National Park) di tetapkan sebagai world
heritage site atau warisan alam dunia oleh UNESCO tahun 1991, sebagai
taman nasional yang punya juga di tetapkan sebagai World heritage site,
saya pikir tidak ada bedanya dengan Taman Nasional Ujung Kulon. tahun
1995 luasnya bertambah menjadi 173.000 ha, terdapat 3 kampung yang hidup
berdampingan didalam kawasan taman nasional ini, kampung komodo, kampung
rinca dan kampung papagaran. sebagian besar adalah pendatang yang
umumnya berasal dari sulawesi selatan yang umumnya suku bugis. walaupun
banyak orang menyebutnya dengan suku Bajo.
terdapat banyak pulau-pulau kecil,di kawasan taman nasional yang umumnya
di kunjungi hanya pulau komodo dan pulau Rinca, penduduk pulau komodo
percaya kalau komodo adalah jelmaan manusia yang melahirkan komodo, dan
sudah ribuan tahun hidup damai dengan hewan yang sangat di lindungi ini.
2 malam di kampung komodo, saya sedikit banyak belajar kembali tentang
sulit nya hidup di dalam kawasan taman nasional, beberapa penduduk
mengajak saya untuk obrolan malam dan makam malam yang sangat-sangat
sederhana di rumah yang mirip gubuk milik sumarni, bercerita tentang
hewan komodo sampai ke nasib mereka, umumnya penduduk kampung komodo
yang berjumlah kurang-lebih 200 kk menggantung hidup dari hasil laut
terutama kerang mata Tujuh dan hasil ikan lainnya.
dalam perjalanan pulang, rasanya ingin berlama-lama tinggal di kampung
ini, dalam perjalanan pulang, di perahu hanya kami dan 2 orang penduduk
yang akan ke labuan bajo, kalau saja ada waktu lebih, kami bisa mampir
ke loh buaya di pulau rinca, tentu hunting hewan yang katanya paling
rakus di dunia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment